Kronologis Malaysia Klaim Tari Tor Tor

21 Juni 2012

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti menceritakan kronologis terjadinya klaim Malaysia terhadap tari Tor-tor dan alat musik Paluan Gordang Sambilan milik masyarakat Mandailing, Sumatera Utara. Isu ini muncul sejak media massa di Indonesia memberitakannya akhir pekan lalu.

tor tor gordang sambilan


Menurutnya, isu tersebut berkembang setalah media Tempo merilis berita dari kantor berita Malaysia, www.bernama.com, yang berisi penyataan Menteri Penerangan, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia Datuk Seri Dr Rais Yatim. Dia mengatakan bahwa tarian Tor-tor dan Paluan Gordang Sambilan milik masyarakat Mandailing, Sumatera Utara, akan didaftarkan mengikuti Section 67 Akta Warisan Kebangsaan 2005.

Kemudian pada Senin, 18 Juni 2012, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia meminta klarifikasi atas isu klaim tari Tor-tor dan alat musik Gordang Sambilan kepada Kementerian Penerangan, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia.

"Pihak KBRI mendapat penjelasan dari Koordinator Pemberitaan Kementerian Penerangan, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia Nor Azli bahwa dalam pertemuan dengan Menteri Rais Yatim, dia menyatakan akan mempertimbangkan permintaan tersebut dengan mendaftarkan tari Tor-tor dan alat musik Gordang Sambilan di bawah Section 67 Akta Warisan Kebangsaan," jelas Wiendu saat rapat dengar pendapat dengan Komisi X DPR RI, Jakarta, Rabu (20/6/2012).

Kemudian, dilanjutkan Wiendu, dalam forum Tingkat Menteri tentang ICT di Singapura, Rais Yatim kembali menyatakan akan mendaftarkan keduanya sebagai warisan negara Malaysia. Alasannya berlandaskan Konvensi Geneva yang menyebutkan bahwa tari Tor-tor dan Gordang Sambilan tidak dimiliki oleh siapapun.

Setelah itu, Tokoh Komunitas Mandailing di Malaysia, Ramli Abdul Karim Hasibuan, menyatakan bahwa Tor-tor merupakan bahasa Mandailing yang artinya "tari-tarian".

"Dia bersama 500 ribu warga komunitas warga Mandailing dari berbagai macam marga di Malaysia ingin budaya Mandailing diakui oleh Pemerintahnya," tutup Windu.

Isu terus bergulir, dan kini, Wiendu akan melakukan desakan kepada pemerintah Malaysia untuk membuat klarifikasi secara tertulis perihal klaim tersebut.

Baca: Bahasa Indonesia vs Bahasa Malaysia

0 komentar:

Posting Komentar

 
banner